blog ini dibuat untuk tempat curahan hati dan karya setiap orang termasuk saya sebagai admin.. apapun postingan yang masuk itu adalah curahan hati atau karya dari setiap insan di dunia #lebay...
Thursday, January 31, 2013
Wednesday, January 30, 2013
Saturday, January 26, 2013
Thursday, January 24, 2013
My cerpen :):):)
Cinta
yang terpendam
Perkenalkan
namaku Gina. Aku adalah salah seorang murid kelas 10 di SMU Harapan
Bangsa. Sama seperti yang lainnya aku hanyalah seorang siswi biasa
yang bisa dibilang standar-standar saja. Sebenarnya aku berasal dari
kota Solo, namun karena aku orang tuaku sudah lebih dulu
meninggalkanku, kini aku tinggal bersama paman dan bibiku di Bandung.
Dan juga aku ini pribadinya pemalu dan susah untuk mengungkapkan
perasaanku sendiri. Sampai pada akhirnya terjadilah hal ini. Hal yang
merupakan akibat dari sifat pemalu yang kumiliki ini.
Kisah
ini berawal dari hari pertama aku masuk sekolah di SMU Harapan
bangsa. Lebih tepatnya saat upacara penerimaan siswa baru telah
diresmikan. Setelah upacara selesai maka kami -para siswa baru- akan
dikumpulkan di aula sekolah untuk mendapat pengerahan mengenai
pembagian kelas dan wali kelas dari masing-masing kelas.
Setelah
di beri aba-aba untuk menuju ke aula kami pun berbondong-bondong
untuk masuk ke aula. Aku berjalan bersama dua orang siswi baru yang
baru kukenal saat upacara penerimaan murid baru tadi, yaitu Ferli dan
Prita. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing sambil
bersenda gurau. Saking asyiknya obrolan kami sampai-sampai aku tidak
melihat ada seorang siswa laki-laki sedang berlari dari arah pintu
aula di saat kami akan masuk ke aula. Tabrakan pun tak terelakkan
lagi. Kami berdua jatuh ke arah belakang. Karena merasa bersalah
siswa laki-laki tersebut membantuku berdiri dan meminta maaf, karena
ia berlari dan telah membuat kami berdua terjatuh. Dia menggenggam
tanganku membantuku berdiri. Tapi kurasakan pergelangan kakiku sakit
sekal sehingga sulit untuk dibuat berdiri. Akhirnya ia meminta ijin
pada salah seorang guru untuk membawaku ke UKS. Ia memapahku
sepanjang jalan menuju UKS.
Baru
pertama kali ini aku menemui lelaki yang baik hati dan mau meminta
maaf sampai bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak murni dia
yang bersalah. Ia memapahku dengan hati-hati. Saat ia memapahku,
kupandangi lekuk wajahnya yang lumayan manis. Terlihat dari wajahnya
ia adalah orang yang berhati lembut. Sesampainya di UKS ia membantuku
untuk duduk di kursi UKS. Dan setelah menjelaskan apa yang terjadi
kepada dokter jaga, ia pun menghampiriku dan berkata, “aku sudah
meminta dokter untuk mengobati kakimu. Perkenalkan namaku Darwin”
katanya sambil menyunggingkan senyum manisnya. Melihat senyumannya
itu hatiku serasa berhenti berdetak. Inikah yang namanya cinta pada
pandangan pertama? Rasanya seperti rasa sesak yang terasa penuh di
dada dan sulit untuk diungkapkan. Melihatku melamun, ia pun berkata,
“haloooo, kamu melamun ya? Namaku Darwin. Namamu siapa?”. “oh
eee, enggak kok aku enggak ngelamun. Namaku Gina. Salam kenal”.
“Nama yang bagus salam kenal juga. Oh iya, karena aku sudah selesai
disini, aku kembali ke aula dulu ya?”. “oo iya iya. Terima kasih
sudah menolongku.”. “iya sama-sama. Ya sudah, cepat sembuh ya…”
katanya sambil tersenyum ke arahku. Entah mengapa aku tak ingin ia
menghilang dari pandanganku. Kuikuti terus bayangan punggungnya
hingga akhirnya bayangan tersebut benar-benar menghilang dari
pandanganku. Entah mengapa setelah ia pergi rasanya suasana di UKS
begitu sepi. Padahal baru kenal beberapa menit yang lalu tapi entah
mengapa aku merasa ingin sekali bertemu lagi dan menjadi dekat
dengannya.
Keesokan
harinya aku datang pagi-pagi sekali berharap akan bertemu lagi
dengannya. Dengan suasana hati yang bercampur aduk aku melihat ke
papan pengumuman untuk mengetahui pembagian kelas untuk anak kelas
10. Ketika melihat daftar nama anak kelas 10 D aku terpaku pada satu
nama yaitu “Darwin Pranata”, aku berharap itu adalah Darwin yang
ku kenal karena 10 D merupakan kelasku juga nantinya. Namun aku
sedih juga karena kedua temanku yaitu Ferli dan Prita berada di kelas
yang berbeda denganku yaitu di kelas 10 A.
Sesampainya
di kelas betapa terkejutnya aku melihat orang yang belum lama kukenal
namun rasanya dia sudah menjadi orang dekat yang selalu ada di setiap
hari-hari dan ingatanku. Aku terpaku di depan pintu kelas sampai ada
sebuah suara yang memanggil-manggil namaku. “Gina.. kamu Gian
kan?”. Aku tersadar bahwa suara tersebut adalah suara dari sosok
manusia yang berada di dalam kelas yang kini telah berada di
hadapanku dan membuat hatiku serasa mau melompot keluar dari tubuhku.
“eee..e iya aku Gina. Kamu Darwin ya?” jawabku tergagap. “iya,,
wah kebetulan sekali ya kita bertemu lagi. Bagaimana kakimu? Apa
sudah sembuh?” tanyanya. “emm sudah lebih baik kok” kataku. “oh
iya kebetulan tempat duduk di sebelahku masih kosong. Apa kau mau
duduk di sebelahku?” lanjutnya. Mendengar perkataannya itu
jantungku serasa berhenti berdetak. Mungkin saat ini mukaku sudah
merah padam seperti kepiting rebus. Melihat aku yang terdiam, iapun
bertany lagi “hello… mau duduk di sebelahku?”. “emh ya
b-boleh saja” kataku. “mohon bantuannya ya. Semoga kita bisa
menjadi teman baik” katanya sambil menjabat tanganku dan
mengeluarkan senyum mautnya itu. Waaaa…semoga saja aku tak meleleh
dibuatnya. “i-iya mohon bantuannya juga” jawabku sambil
menyembunyikan wajahku yang terlanjur panas dibuatnya. Kurasa
hari-hariku di SMA ini akan berlalu bahagia bersamanya.
Tak
terasa sudah 1 bulan aku menjalani masa SMA ini. Dan itupun ku jalani
bersama orang yang kusuka, ya Darwin. Semenjak hari itu hubunganku
dan dia semakin baik dan kamipun selalu terlihat dekat walaupun ia
hanya menganggapku sebagi sahabatnya. Yah setidaknya aku masih
memiliki status di hadapannya yaitu sebagai sahabatnya walaupun
terkadang aku menginginkan lebih dari itu.
Sampai
pada suatu hari aku melihatnya berjalan bersama siswi dari kelas 10 C
bernama Angel. Yah sakit sih melihat mereka jalan berdua namun apa
daya toh dia juga menganggapku hanya sebatas sahabatnya saja. Sejak
saat itu dia sering sekali menceritakan tentang Angel kepadaku. Aku
yang memendan rasa sakit di hatiku karena mendengar orang yang kusuka
sedang menceritakan anak perempuan lain yang sekarang sedang ia
pikirkan hanya bisa diam dan hanya mendengar tanpa berkomentar.
Sampai pada suatu hari aku sudah bosan mendengar semua ceritanya
tentang Angel aku memutuskan untuk angkat bicara “apa kau tida
bosan setiap hari bercerita tentangnya kepadaku?” tanyaku. “tentu
saja tidak karna kamu itu sahabatku dan menurutku hanya kamulah yang
mau mendengar semua curahan hatiku ini” balasnya. “tahukah kamu
kalau sebenarnya aku bosan mendengar semua ini setiap hari? Apa kau
tidak pernah memikirkan perasaanku saat kau bercerita panjang lebar
tentang gadis itu?”. Ia terlihat bingung dan menatapku. “aku kira
kau akan senang jika melihatku senang. Bukankah itu yang namanya
sahabat?” jawabnya. Aku terdiam lalu pergi meninggalkannya tanpa
berkata apapun.
Sejak
kejadian itu hubunganku dan Darwin tak seakur dulu lagi aku pun
berusaha menghindarinya dengan cara pindah duduk disebelah Andin.
Terkadang aku merasa bersalah padanya karna menjauhinya secara
tiba-tiba dan tanpa sebab yang jelas namun jika semua ini diteruskan
ini akan lebih membuatku sakit karena rasa sukaku padanya. Maaf atas
keegoisanku ini Darwin, tapi ini semua aku lakukan agar kau tak
terlalu bergantung padaku dan membuatku lebih sakit lagi karena rasa
ini.
Seminggu
berlalu sejak aku mulai menjauhkan diri dari Darwin. Entah karena apa
aku merasa ini sudah keterlaluan dan aku harus meminta maaf padanya.
Kubulatkan tekadku untuk meminta maaf padanya pada saat pulang
sekolah nanti. Namun pada saat bel pulang berbunyi aku melihat Darwin
terburu-buru keluar kelas, aku yang melihat hal tersebut mencoba
mengikutinya dan coba tebak apa yang aku temukan. Ya dia akan pulang
bersama Angel hari ini. Menurut berita yang beredar mereka sudah
jadian sekitar 3 hari yang lalu. Tahukah kalian bagaimana rasanya
hatiku saat ini melihat orang yang kusukai berjalan berdampingan dan
bergandengan tangan di depan mataku sendiri? Tanap terasa air mataku
mengalir deras keluar dari pelupuk mataku. Kuurungkan niatku untuk
meminta maaf padanya hari ini.
Aku
pulang ke rumah dengan perasaan hancur berkeping-keping. Aku sangat
tak berkonsentrasi saat ini, aku atak menghiraukan apapun di
sekitarku karena suasana hatiku yang sedang kacau. Di rumah akupun
hanya mengurung diriku di kamar dan merenungkan cara bagaimana aku
bisa meminta maaf padanya tanpa harus bertemu dan berbicara empat
mata dengannya.
Keesokan
harinya aku berangkat sekolah dengan keadaan kacau karena semalam aku
tak bisa tidur akibat memikirkan cara untuk meminta maaf pada Darwin.
Sesampainya di sekolah aku mendapat kabar yang tak mengenakkan.
Katanya Darwin dan Angel mengalami kecelakaan kemarin sore. Nyawa
Angel tak terselamatkan. Berbeda dengan Darwin yang masih mengalami
masa kritis di rumah sakit. Aku sangat terkejut mendengarnya, dan itu
sukses membuatku tidak konsen dengan semua pelajaran yang diajarkan
oleh semua guru hari ini. Dan akhirnya saat bel pulang dibunyikan
akupun langsung menerobos keluar gerbang dan berlari menuju rumah
sakit yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Sesampainya di sana aku
bertanya kepada resepsionist dimana tempat Darwin dirawat. Setelah
suster menunjukkan ruangannya betapa terkejutnya aku melihat Darwin
yang biasanya ceria kini ia hanya diam seribu bahasa dengan berbagai
selang ang tersambung ke seluruh tubuhnya dan peralatan rumah sakit
itu. Kucoba untuk duduk di sebelah tempat tidurnya. Ia sama sekali
tak bergerak, hanya suara alat pendeteksi detak jantung yang mengisi
kesunyian tempat ini. Tak terasa air mataku mulai menetes dari
pelupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya disini. “aku minta
maaf, maaf aku tak sempat mengatakkanya kemarin karna aku terlalu
sakit melihatmu bersama Angel. Sekali lagi maaf” kataku di
tengah-tengah tangisanku. Aku berharap ia akan sadar dan membalas
perkataanku. Namun itu hanya sia-sia saja karna ia tetap diam terpaku
di atas tempat tidurnya dan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan
sadar kembali.
Sudah
empat hari ia terbaring tak berbicara di tempat tidur itu. Kapan ia
akan sadar Ya Tuhan. Berikanlah ia kekuatan untuk kembali sadar dan
menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Tak lama kemudian orang tua
Darwin datang dan menyuruhku untuk pulang dan beristirahat karena
memang selama 4 hari ini aku yang menjaga Darwin karena orang tuanya
pergi menjemput neneknya yang ingin melihat keadaan cucunya ini.
Sesampainya
di rumah aku langsung tertidur karena capek dan memang aku tidur
hanya beberapa jam selama 4 hari ini karena aku berharap ia akan
sadar dan orang yang pertama kali ia lihat adalah aku. Keesokan
paginya aku mulai masuk sekolah karena jujur sudah 2 hari aku tidak
masuk sekolah dan pastinya sudah banyak pelajaran yang aku tinggalkan
begitu saja.
Saat
bel istirahat berbunyi tiba-tiba telepon genggamku pun ikut
berdering. Kulihat layar handphoneku dan ternyata itu orang tua
Darwin menelpon. Mereka mengabarkan bahwa Darwin telah sadar dan
sekarang ia sudah bisa dijenguk. Di dalam hati aku merasa kecewa
mengapa ia tidak sadar saat aku saja yang menemaninya, tapi aku juga
bersyukur akhirnya ia sudah sadarkan diri. Aku berkata pada orang
tuanya bahwa nanti pulang sekolah aku akan kesana untuk menjenguknya.
Setelah
pulang sekolah aku mampir dulu ke supermarket untuk membelikannya
buah-buahan setelah itu aku berangkat menuju rumah sakit dan tidak
sabar untuk melihatnya. Sesampainya aku disana. Aku melihat senyum
ramah dari keluarga Darwin menyambutku namun tidak dengan Darwin, ia
melihatku dengan tatapan heran dan entah apa itu ia seperti orang
yang tidak mengenaliku. Saat aku mencoba mendekat padanya ia semakin
menajamkan tatapannya terhadapku. “apa kau sudah baikan?”
tanyaku. “sudah. Maaf, kalau boleh tahu kau ini siapa ya?”
tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan dengan
ragu aku menjawab “aku sahabatmu, Gina. Kita teman satu kelas”.
“maaf aku lupa” katanya dengan menambah aksen kebingungan pada
mimik wajahnya. Aku semakin terjkejut dengan perkataannya. Aku
mencoba bertanya pada ibunya dan kata ibunya ia mengalami gegar otak
ringan dan hanya kehilangan sebagian ingatannya terutama ingatan yang
menyenangkan ataupun menyedihkan yang terjadi padanya akhir-akhir
ini. Aku sangat shock mendengar penjelasan dari ibunya. Dengan
terpaksa aku mohon diri untuk pulang kepada ibunya.
Saat
perjalanan pulang tak henti-hentinya aku memikirkan tentang hilangnya
ingatan Darwin tentangku. Aku tak habis piker kenapa aku yang harus
ia lupakan sedangkan aku berharap setelah kejadian ini hubungan kami
akan kembali membaik.
Setelah
10 hari menjalani pemulihan kini Darwin sudah boleh masuk sekolah
lagi. Namun semua ini berbeda 180 derajat dari yang kuharapkan. Ya
kini ia seperti orang baru dan tak mengenalku sama sekali. Dulu dia
yang sering menyapaku, kini saat melewatiku pun ia tak pernah lagi
menoleh padaku. Separah itukah hilangnya ingatanmu tentangku? Tentang
semua hari indah kita saat bersama? Pernah aku mencoba untuk
menyapanya namun apa yang kuperoleh ia hanya menoleh dan tersenyum
tipis kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Inikah akhir kisah
cintaku? Akhir yang tak pernah melewati awalan. Ya inilah kisahku,
kisah cinta yang hanya bisa kupendam dalam hatiku yang seharusnya
sudah kubuang saat ia mencintai gadis itu.. inilah kisahku. Kisah
cinta yang berakhir tanpa adanya permulaan dan kisah cinta yang hanya
aku dan Tuhan yang mengetahuinya..
::SELESAI::
Saturday, January 19, 2013
Sunday, January 13, 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
