Saturday, February 9, 2013

60 seconds part 1

60 seconds

Disaat semua hal terasa menghilang,
Namun hanya dengan 60 detik kau bisa membuatku kembali padamu,
Karena aku hanya butuh 60 detik untuk kisah ini.


Di halaman sebuah sekolah terlihat dua orang remaja sedang bersenda gurau. Saat ini sekolah sedang sepi karena memang jam pulang sekolah sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu, namun hal tersebut tak mengurungkan niat kedua remaja ini untuk menghentikan kegiatannya. Mereka malah terlihat semakin asyik dengan pembicaraan yang sedang mereka bicarakan. Di saat yang sama muncullah sedan berwarna hitam dari persimapangan di samping sekolah mereka.
Tiiinnn.....tiiiinnnn.....
Bunyi klakson sedan tersebut menghentikan kegiatan dua remaja itu dan membuat mereka menoleh kearah sedan tersebut. ”wah, sepertinya jemputanmu sudah datang ris.” kata salah satu remaja yang bernama Rino. ”iya nih, aku pulang dulu ya. Makasih udah mau nemenin sampai jemputanku datang.” sahut remaja satunya yang kita ketahui bernama Risa. ”Nyantai aja kali. Lain kali daripada nungguin jemputan mending pulang bareng aku aja oke? Lagian rumah kita juga searah kan?”. ”Okelah lain kali aja ya No. Bye, ati-ati dijalan.”. ”Bye, kamu juga ati-ati ya.”.
Begitulah keseharian dua sahabat ini, Risa selalu menunggu jemputannya dengan ditemani oleh Rino, sang sahabat. Entah mengapa mereka terlihat seperti berpacaran, namun mereka selalu menyangkal pernyataan behwa mereka adalah sepasang kekasih. Mungkin karena mereka sudah dekat sejak SMP jadi mereka terlihat selalu bersama dan seperti seorang kekasih. Walaupun mereka menyangkal pernyataan bahwa mereka sepasang kekasih, namun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya telah tumbuh perasaan lain di antara mereka berdua hanya saja mereka malu untuk sekedar mengakui hal tersebut.


26 Agustus 2007
Hari ini adalah hari yang spesial untuk Risa karena ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 17 apalagi hari ini bertepatan dengan hari Sabtu dan orang tuanyapun telah menyiapkan pesta untuk ulang tahunnya nanti malam.
Sesaat setelah dia datang di sekolahpun dia sudah diberondong dengan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya. Setelah menerima berbagai ucpan maupun kado Risa merasa ada yang kurang, ada satu orang yang belum mangucapkan selamat padanya yaitu Rino. Sesaat ia merasa kecewa, mengapa orang yang ia anggap sebagai sahabat dan orang yang bisa membuat jantungnya berdetak diatas normal itu malah lupa akan ulang tahunnya. Namun di tengah kekecewaanya ia menemukan secarik kertas di kolong mejanya. Dengan malas ia membolak-balikan kertas tersebut hingga matanya menangkap tulisan nama yang manuruntya familiar di atas kertas tersebut ”to : Risa, from : Rino.”. Dengan penasaran ia menoleh kebangku belakang dan ia melihat Rino yang tersenyum padanya seakan mengatakan padanya untuk segera membuka kertas tersebut. Risa pun membalas senyum Rino kemudian kembali ke posisi duduknya yang semula. Dengan senyum yang terkembang ia membuka kertas tersebut.

Hei Ris....... lagi nungguin ucapan selamat dari aku ya..... hehe. (ih pede banget dia, batin Risa sambil tertawa)
Selamat ulang tahun ya... maaf baru ngucapin. Abis dari dateng di skolah kamu udah kaya gula yang dikerubutin semut sih.. jadi aku gak bisa ngicapin lebih awal deh *pout*..
(oh jadi karena ini kamu gak ngucapin selamat ke aku, hihi)
Oh iya nanti pulang bareng yuk.. tapi aku mau ajak kamu ke suatu tempat dulu gimana? Mau ya?!! Please......
Kalo iya kamu noleh ke belakang terus kedipin mata kanan kamu.. oke....

Setelah membaca surat tersebut Risa pun menoleh ke belakang. Ia melihat Rino yang sedang melihat ke arahnya penuh harap. Mencoba untuk menggoda Rino, Risa menggelengkan kepalanya. Melihat hal tersebut Rino menghela napas putus asa. Namun tak beberapa lama Risa mengedipkan mata sebelah kanannya, yang membuat Rino kembali melihatnya dengan pandangan bertanya. Kemudian Rino bergumam ”Yang mana yang benar?”. Rina pun membalas dengan bergumam pula ”Yang kedua, hehehehe....”. Senyum pun kembali terpatri di wajah Rino karena bayangan tentang apa yang akan dilakukannya nanti tergambar jelas di fikirannya. Risa yang melihat Rino telah tersenyum pun ikut tersenyum melambangkan betapa bahagianya hatinya melihat senyum Rino yang kembali muncul dan membuat jantungnya semakin berpacu melebihi batas normal.

#skip time#
Teenggg.....teeengggg....tennngggg....
Tak terasa bel penanda usainya kegiatan jam belajar pun berbunyi, semua murid bersorak senang karena mereka bisa melepas lelah setelah sehari penuh menerima pelajaran. Semua murid mulai berhamburan keluar kelas, namun tidak dengan dua orang remaja yang akan pergi ke suatu tempat tersebut. Mereka pun keluar dari kelas setelah keadaan sekolah hampir sepi hanya ada beberapa siswa yang sedang melakukan kegiatan ekskul maupun organisasi siswa yang lainnya. Mereka berjalan beriringan melewati lorong sekolah disertai dengan canda tawa yang keluar dari mulut keduanya.
Sesampainya di tempat parkir hanya terlihat 3 buah motor dan 1 mobil yang masih bertengger rapi di tempatnya. Rino berjalan menuju motornya diikuti oleh Risa, yang hari ini tidak dijemput karena akan pergi bersama Rino tentunya. Rino menyodorkan sebuah helm untuk dipakai Risa. ”Sebenarnya kita mau kemana sih? Kenapa harus pake rahasia-rahasiaan?...”, tanya Risa tiba-tiba. ”udahlah kamu ikut aja, nanti kamu juga bakal tau kok. Oke....”, balas Rino. Rino pun menghidupkan mesin motornya dan menyuruh Risa untuk segera menaiki motornya. ”Pegangan yang erat ya.. hehe..”, kata Rino. Entah mengapa mendengar kata dari Rino tersebut, Risa merasa jantungnya kembali berpacu dan ia merasa darah dari seluruh tubuhnya mengalir dan berhenti di wajahnya yang mengakibatkan wajahnya menjadi terasa sangat panas sekarang. Dengan perlahan ia pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rino. Rino semakin mengembangkan senyumannya saat merasakan tangan Risa sudah melingakar di pinggangnya. Kemudian ia mulai melajukan motornya membelah jalan raya.
Setelah 30 menit perjalanan sampailah mereka disebuah taman yang disebelah taman tersebut terdapat sebuah danau yang airnya terlihat sangat jernih hingga menimbulkan berkar-berkas cahaya seperti kristal yang berkilauan saat sinar matahari langsung mengarah ke airnya. Risa turun dari motor Rino dan terkagum melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya tersebut. ”Wah.. indah sekali, darimana kamu tahu tempat ini No?” tanya Risa. ”Baguskan? Aku kesini dengan klub pecinta alam bulan lalu, dan aku berniat untuk mengajakmu kesini di saat hari spesial seperti ini. Bagaimana kamu senang?”. ”Wahhh... lebih dari senang No. Ini bagus banget. Ini hadiah terindah yang pernah aku dapat. Makasih ya No. Kamu sahabat terbail yang pernah aku punya.”. kata-kata tersebut membuat wajah Rino sedikit murung. Namun ia mencoba kembali tersenyum dan melanjutkan rencananya untuk mengungkapkan perasaannya tersebut.
Rino mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam kantong seragamnya kemudian menggenggamnya erat dan bertekad untuk mengatakan hal yang sejujurnya sekarang. ”Sa... sebenernya masih ada satu lagi hadiah dariku, tapi aku ragu kamu mau menerimanya atau enggak..” katanya dengan wajah yang dibuat sedih. ”Hei..hei..hei kenapa harus pake masang wajah kaya gitu sih. Apapun hadiah darimu aku pasti terima kok..” balas Risa sambil tersenyum. ”Tapi kamu kan cuman nganggap aku sebagai sahabatmu sa, sedangkan hadiah ini bakal aku kasih kalo kamu udah gak nganggap aku sebagai sahabatmu lagi.”. ”hah... k-kamu ngomong apa sih No? Aku gak ngerti deh..”. ”Ya aku bakal ngasih hadiah spesial ini kalo kamu udah gak nganggep aku sebagai sahabatmu lagi tapiii....” tiba-tiba Rino terdiam sesaat dan Risa merasakan ada banyak sekali jarum yang tak terlihat namun terasa menusuk dan sangat sakit menuju hatinya karena perkataan Rino tadi. Tak terasa sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Risa karena ia merasa tak sanggup untuk berada jauh dari Rino. Menyadari hal tersebut Rino segera membuka mulutnya untuk kembali melanjutkan kalimatnya, ”aku pengen kamu ngelupain aku sebagai sahabatmu dan mulai membangun ingatan baru dengan aku sebagai orang spesial di hati kamu.”. Risa kaget dan terdiam. jarum transparan yang tadi menusuk hatinya sekarang telah berubah menjadi kembang api yang meledak-ledak membuat jantungnya berpacu semakin cepat dan menjatuhkan berbulir-bulir kristal bening dari pelupuk matanya, entah kenapa ia merasa sangat senang sampai tak bisa berkata apapun selain meneteskan airmata bahagia tersebut sebagai tanda bahwa ia merasa menjadi wanita paling bahagia sekarang. Melihat Risa yang semakin menangis tersedu, Rino pun menarik Risa ke dalam pelukannya dan berharap tangisannya segera reda dan ia akan segera menjawab pernyataan Rino.
Bagaimana? Apa kamu mau melupakan aku sebagai sahabatmu dan memulai hal baru dengan aku sebagai kekasihmu?” tanya Rino. Risa mengangguk samar dalam pelukan Rino. Rino yang menyadari hal tersebut semakin mengeratkan pelukannya pada Risa dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Risa. Rino semakin mengeratkan pelukannya sedangkan Risa tidak berani mengangkat wajahnya yang ia yakini sekarang sudah mirip dengan kepiting rebus yang siap dihidangkan tersebut. Rino membawa gadis yang kini telah resmi menjadi kekasihnya tersebut untuk duduk dibawah pohon yang lumayan rindang di pinggir danau. Risa yang masih berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. ”hei.. kenapa harus ditutupi? Kamu semakin terlihat manis kalau sedang malu.” Rino mencoba mengangkat dagu Risa agar menghadapnya namun Risa tetap bersikeras untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang memerah tersebut.
Selang beberapa menit Risa pun berani mengangkat wajahnya dan menatap kedua manik mata Rino. ”Jadi mana hadiahku?” tanya Risa. ”Oh iya ini hadiahmu tuan putri.” kata Rino sembari menyerahkan kotak beludru kepada Risa. ”Ayo bukalah dan lihat isinya baik-baik.” lanjut Rino. Risa membuka kotak tersebut dan sedetik kemudian ia tersenyum beserta keluarnya kristal bening tanda kebahagiaan dari kedua manik matanya. Ia merasa sangat bahagia skarang. Kemudian ia kembali memluk Rino yang dibalas dengan pelukan yang erat namun sarat akan kasih sayang oleh Rino.
Tak terasa jam sudah menunjukkan puluk 4 sore. ”hei bagaimana kalau kita pulang, bukankah nanti malam adalah pesta ulang tahunmu sayang?” kata Rino. ”oh iya sampai lupa, ayo kita pulang. Nanti kau pasti akan datang kan?” balas Risa. ”Tentu saja aku akan datang. Bagaimana bisa aku melewatkan hari bahagia bagimu my baby.” kalimat yang terlontar dari Rino tersebut membuat pipi Risa kembali memerah. ”Sudahlah ayo kita pulang agar kau bisa bersiap-siap untuk nanti malam. Oh iya ini satu liontin untukmu dan yang satunya lagi untukku.” lanjut Rino sambil menyerahkan satu liontin angsa tersebut. ”pakailah nanti saat pesta berlangsung. Akupun akan memakai punyaku. Agar semua orang tahu kalau kau milikku dan angsa ini akan menjaga dan melambangkan inta kita berdua.” lanjut Rino lagi. Dan merekapaun meninggalkan tempat yang telah mempersatukan mereka untuk segera bersiap-siap untuk pesta ulang tahunRisa nanti malam.
#SKIP TIME#
Malamnya Rumah Risa telah dipenuhi oleh tamu undangan yang kebanyakkan adalah teman-teman sekolah Risa. Risa sangat gelisah karena orang yang ia tunggu belum juga datang. Ia hanya meberikan senyum singkat pada teman-teman yang menyapanya selebihnya ia hanya mondar-mandir menanti kehadiran Rino, sang kekasih sambil menggenggam liontin angsa yang sekarang telah melingkar dengan indahnya di leher jenjang Risa.
Ia segera melihat kearah pintu masuk saat dirasanya ada seseorang yang datang dari arah pintu tersebut. Senyum yang tadi menghilang kini telah kembali menghiasi wajah cantiknya yang kini dibaluti dengan makeup natural yang lebih menampilkan kesan manisnya saat melihat orang yang telah ditunggunya sejak tadi telah datang dengan membawa sebuket bunga dengan mengenakan stelan jas yang sangat cocok di tubuhnya dan memberikan kesan tampan dan dewasa melekat padanya. Ia merentangkan kedua tangannya seakan menyambut gadisnya itu untuk menuju ke pelukannya. Tanpa pikir panjang Risa berlari menuju Rino dan langsung menghambur ke pelukannya. Semua tamu yang melihat hal tersebut smpat shock namun sedetik kemudian merekan senyum yang menandakan bahwa mereka ikut merasakan bahagia.
hei... apa sebegitu rindunya kau padaku sampai-sampai tak mau lepas dari pelukanku? Apakah kau akan lepas saat tamu-tamu ini sudah pulang heumm?” Bisik Rino pada telinga Risa. Risa yang mendengar hal itu langsung melepaska pelukannya pada Rino dab tersenyum canggung melihat semua perhatian tamu terpusat kepada mereka berdua. ”hehehe...” ia hanya bisa tersenyum canggung menyadari hal tersebut kemudian menarik tangan Rino agar mengikutinya ke arah kue ulang tahun dan bersiap untuk membuka acaranya malam ini.
Malam pun semakin larut dan para tamu pun satu persatu mulai meninggalkan rumah Risa untuk pulang ke rumah masing-masing. Pesta hari ini berjalan lancar. Selain untuk memperingati hari unlang tahunnya pesta ini pun dilakukan untuk peresmian ia sebagai kekasih dari sahabat kecilnya yaitu Rino. Terlihat rumah Risa mulai sepi karena tamu sudah pulang semua dan hanya menyisakan dua orang remaja yang duduk berdampingan di bangku taman dengan kepala menengadah ke langit seakan bintang malam ini terlihat sangat indah di mata mereka.
hei kamu bisa lihat bintang yang bersinar terang disana?” tanya Rino tiba-tiba. ”iya memangnya kenapa dengan bintang itu?” kata Risa balik bertanya kepada Rino. ”bintang itu sangat kuat sampai bisa memancarkan cahaya seterang itu dan aku berharap cinta kita seterang sinar bintang itu.”. ”mangapa begitu?” tanya Risa lagi. ”ya karena jika cinta kita seterang sinar bintang itu berarti cinta kita sangatlah kuat dan mungkin saja lebih kuat ya kan?”. ”iya.” kata Rosa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Rino. Mereka kembali terdiam menatap langit. Tanpa mereka sadari kalung yang mereka pakai bersinar seakan-akan semakin mempersatukan cinta mereka berdua...

to Be continued......

PREVIEW CHAPTER DEPAN (END)
kenapa harus begitu? Apa kau rela meninggalkanku disini?”
maaf tapi aku janji aakan secepatnya kembali kepadamu, tolong percayalah padaku.”
baiklah cepatlah kembali dan bawa liontin ini sebagai penjagamu disana.”

maaf tuan aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya..”
secepat itukah kau melupakanku dan cinta kita?”




hah akhirnya chap 1 selesai... chap 2 ato terakhir lagi progress nih do'ain aja semoga bisa cepet update ya... jgan lupa Like n comment oke ^_^

Thursday, January 24, 2013

My cerpen :):):)

Cinta yang terpendam
Perkenalkan namaku Gina. Aku adalah salah seorang murid kelas 10 di SMU Harapan Bangsa. Sama seperti yang lainnya aku hanyalah seorang siswi biasa yang bisa dibilang standar-standar saja. Sebenarnya aku berasal dari kota Solo, namun karena aku orang tuaku sudah lebih dulu meninggalkanku, kini aku tinggal bersama paman dan bibiku di Bandung. Dan juga aku ini pribadinya pemalu dan susah untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Sampai pada akhirnya terjadilah hal ini. Hal yang merupakan akibat dari sifat pemalu yang kumiliki ini.
Kisah ini berawal dari hari pertama aku masuk sekolah di SMU Harapan bangsa. Lebih tepatnya saat upacara penerimaan siswa baru telah diresmikan. Setelah upacara selesai maka kami -para siswa baru- akan dikumpulkan di aula sekolah untuk mendapat pengerahan mengenai pembagian kelas dan wali kelas dari masing-masing kelas.
Setelah di beri aba-aba untuk menuju ke aula kami pun berbondong-bondong untuk masuk ke aula. Aku berjalan bersama dua orang siswi baru yang baru kukenal saat upacara penerimaan murid baru tadi, yaitu Ferli dan Prita. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing sambil bersenda gurau. Saking asyiknya obrolan kami sampai-sampai aku tidak melihat ada seorang siswa laki-laki sedang berlari dari arah pintu aula di saat kami akan masuk ke aula. Tabrakan pun tak terelakkan lagi. Kami berdua jatuh ke arah belakang. Karena merasa bersalah siswa laki-laki tersebut membantuku berdiri dan meminta maaf, karena ia berlari dan telah membuat kami berdua terjatuh. Dia menggenggam tanganku membantuku berdiri. Tapi kurasakan pergelangan kakiku sakit sekal sehingga sulit untuk dibuat berdiri. Akhirnya ia meminta ijin pada salah seorang guru untuk membawaku ke UKS. Ia memapahku sepanjang jalan menuju UKS.
Baru pertama kali ini aku menemui lelaki yang baik hati dan mau meminta maaf sampai bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak murni dia yang bersalah. Ia memapahku dengan hati-hati. Saat ia memapahku, kupandangi lekuk wajahnya yang lumayan manis. Terlihat dari wajahnya ia adalah orang yang berhati lembut. Sesampainya di UKS ia membantuku untuk duduk di kursi UKS. Dan setelah menjelaskan apa yang terjadi kepada dokter jaga, ia pun menghampiriku dan berkata, “aku sudah meminta dokter untuk mengobati kakimu. Perkenalkan namaku Darwin” katanya sambil menyunggingkan senyum manisnya. Melihat senyumannya itu hatiku serasa berhenti berdetak. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Rasanya seperti rasa sesak yang terasa penuh di dada dan sulit untuk diungkapkan. Melihatku melamun, ia pun berkata, “haloooo, kamu melamun ya? Namaku Darwin. Namamu siapa?”. “oh eee, enggak kok aku enggak ngelamun. Namaku Gina. Salam kenal”. “Nama yang bagus salam kenal juga. Oh iya, karena aku sudah selesai disini, aku kembali ke aula dulu ya?”. “oo iya iya. Terima kasih sudah menolongku.”. “iya sama-sama. Ya sudah, cepat sembuh ya…” katanya sambil tersenyum ke arahku. Entah mengapa aku tak ingin ia menghilang dari pandanganku. Kuikuti terus bayangan punggungnya hingga akhirnya bayangan tersebut benar-benar menghilang dari pandanganku. Entah mengapa setelah ia pergi rasanya suasana di UKS begitu sepi. Padahal baru kenal beberapa menit yang lalu tapi entah mengapa aku merasa ingin sekali bertemu lagi dan menjadi dekat dengannya.
Keesokan harinya aku datang pagi-pagi sekali berharap akan bertemu lagi dengannya. Dengan suasana hati yang bercampur aduk aku melihat ke papan pengumuman untuk mengetahui pembagian kelas untuk anak kelas 10. Ketika melihat daftar nama anak kelas 10 D aku terpaku pada satu nama yaitu “Darwin Pranata”, aku berharap itu adalah Darwin yang ku kenal karena 10 D merupakan kelasku juga nantinya. Namun aku sedih juga karena kedua temanku yaitu Ferli dan Prita berada di kelas yang berbeda denganku yaitu di kelas 10 A.
Sesampainya di kelas betapa terkejutnya aku melihat orang yang belum lama kukenal namun rasanya dia sudah menjadi orang dekat yang selalu ada di setiap hari-hari dan ingatanku. Aku terpaku di depan pintu kelas sampai ada sebuah suara yang memanggil-manggil namaku. “Gina.. kamu Gian kan?”. Aku tersadar bahwa suara tersebut adalah suara dari sosok manusia yang berada di dalam kelas yang kini telah berada di hadapanku dan membuat hatiku serasa mau melompot keluar dari tubuhku. “eee..e iya aku Gina. Kamu Darwin ya?” jawabku tergagap. “iya,, wah kebetulan sekali ya kita bertemu lagi. Bagaimana kakimu? Apa sudah sembuh?” tanyanya. “emm sudah lebih baik kok” kataku. “oh iya kebetulan tempat duduk di sebelahku masih kosong. Apa kau mau duduk di sebelahku?” lanjutnya. Mendengar perkataannya itu jantungku serasa berhenti berdetak. Mungkin saat ini mukaku sudah merah padam seperti kepiting rebus. Melihat aku yang terdiam, iapun bertany lagi “hello… mau duduk di sebelahku?”. “emh ya b-boleh saja” kataku. “mohon bantuannya ya. Semoga kita bisa menjadi teman baik” katanya sambil menjabat tanganku dan mengeluarkan senyum mautnya itu. Waaaa…semoga saja aku tak meleleh dibuatnya. “i-iya mohon bantuannya juga” jawabku sambil menyembunyikan wajahku yang terlanjur panas dibuatnya. Kurasa hari-hariku di SMA ini akan berlalu bahagia bersamanya.
Tak terasa sudah 1 bulan aku menjalani masa SMA ini. Dan itupun ku jalani bersama orang yang kusuka, ya Darwin. Semenjak hari itu hubunganku dan dia semakin baik dan kamipun selalu terlihat dekat walaupun ia hanya menganggapku sebagi sahabatnya. Yah setidaknya aku masih memiliki status di hadapannya yaitu sebagai sahabatnya walaupun terkadang aku menginginkan lebih dari itu.
Sampai pada suatu hari aku melihatnya berjalan bersama siswi dari kelas 10 C bernama Angel. Yah sakit sih melihat mereka jalan berdua namun apa daya toh dia juga menganggapku hanya sebatas sahabatnya saja. Sejak saat itu dia sering sekali menceritakan tentang Angel kepadaku. Aku yang memendan rasa sakit di hatiku karena mendengar orang yang kusuka sedang menceritakan anak perempuan lain yang sekarang sedang ia pikirkan hanya bisa diam dan hanya mendengar tanpa berkomentar. Sampai pada suatu hari aku sudah bosan mendengar semua ceritanya tentang Angel aku memutuskan untuk angkat bicara “apa kau tida bosan setiap hari bercerita tentangnya kepadaku?” tanyaku. “tentu saja tidak karna kamu itu sahabatku dan menurutku hanya kamulah yang mau mendengar semua curahan hatiku ini” balasnya. “tahukah kamu kalau sebenarnya aku bosan mendengar semua ini setiap hari? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku saat kau bercerita panjang lebar tentang gadis itu?”. Ia terlihat bingung dan menatapku. “aku kira kau akan senang jika melihatku senang. Bukankah itu yang namanya sahabat?” jawabnya. Aku terdiam lalu pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun.
Sejak kejadian itu hubunganku dan Darwin tak seakur dulu lagi aku pun berusaha menghindarinya dengan cara pindah duduk disebelah Andin. Terkadang aku merasa bersalah padanya karna menjauhinya secara tiba-tiba dan tanpa sebab yang jelas namun jika semua ini diteruskan ini akan lebih membuatku sakit karena rasa sukaku padanya. Maaf atas keegoisanku ini Darwin, tapi ini semua aku lakukan agar kau tak terlalu bergantung padaku dan membuatku lebih sakit lagi karena rasa ini.
Seminggu berlalu sejak aku mulai menjauhkan diri dari Darwin. Entah karena apa aku merasa ini sudah keterlaluan dan aku harus meminta maaf padanya. Kubulatkan tekadku untuk meminta maaf padanya pada saat pulang sekolah nanti. Namun pada saat bel pulang berbunyi aku melihat Darwin terburu-buru keluar kelas, aku yang melihat hal tersebut mencoba mengikutinya dan coba tebak apa yang aku temukan. Ya dia akan pulang bersama Angel hari ini. Menurut berita yang beredar mereka sudah jadian sekitar 3 hari yang lalu. Tahukah kalian bagaimana rasanya hatiku saat ini melihat orang yang kusukai berjalan berdampingan dan bergandengan tangan di depan mataku sendiri? Tanap terasa air mataku mengalir deras keluar dari pelupuk mataku. Kuurungkan niatku untuk meminta maaf padanya hari ini.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan hancur berkeping-keping. Aku sangat tak berkonsentrasi saat ini, aku atak menghiraukan apapun di sekitarku karena suasana hatiku yang sedang kacau. Di rumah akupun hanya mengurung diriku di kamar dan merenungkan cara bagaimana aku bisa meminta maaf padanya tanpa harus bertemu dan berbicara empat mata dengannya.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan keadaan kacau karena semalam aku tak bisa tidur akibat memikirkan cara untuk meminta maaf pada Darwin. Sesampainya di sekolah aku mendapat kabar yang tak mengenakkan. Katanya Darwin dan Angel mengalami kecelakaan kemarin sore. Nyawa Angel tak terselamatkan. Berbeda dengan Darwin yang masih mengalami masa kritis di rumah sakit. Aku sangat terkejut mendengarnya, dan itu sukses membuatku tidak konsen dengan semua pelajaran yang diajarkan oleh semua guru hari ini. Dan akhirnya saat bel pulang dibunyikan akupun langsung menerobos keluar gerbang dan berlari menuju rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Sesampainya di sana aku bertanya kepada resepsionist dimana tempat Darwin dirawat. Setelah suster menunjukkan ruangannya betapa terkejutnya aku melihat Darwin yang biasanya ceria kini ia hanya diam seribu bahasa dengan berbagai selang ang tersambung ke seluruh tubuhnya dan peralatan rumah sakit itu. Kucoba untuk duduk di sebelah tempat tidurnya. Ia sama sekali tak bergerak, hanya suara alat pendeteksi detak jantung yang mengisi kesunyian tempat ini. Tak terasa air mataku mulai menetes dari pelupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya disini. “aku minta maaf, maaf aku tak sempat mengatakkanya kemarin karna aku terlalu sakit melihatmu bersama Angel. Sekali lagi maaf” kataku di tengah-tengah tangisanku. Aku berharap ia akan sadar dan membalas perkataanku. Namun itu hanya sia-sia saja karna ia tetap diam terpaku di atas tempat tidurnya dan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar kembali.
Sudah empat hari ia terbaring tak berbicara di tempat tidur itu. Kapan ia akan sadar Ya Tuhan. Berikanlah ia kekuatan untuk kembali sadar dan menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Tak lama kemudian orang tua Darwin datang dan menyuruhku untuk pulang dan beristirahat karena memang selama 4 hari ini aku yang menjaga Darwin karena orang tuanya pergi menjemput neneknya yang ingin melihat keadaan cucunya ini.
Sesampainya di rumah aku langsung tertidur karena capek dan memang aku tidur hanya beberapa jam selama 4 hari ini karena aku berharap ia akan sadar dan orang yang pertama kali ia lihat adalah aku. Keesokan paginya aku mulai masuk sekolah karena jujur sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan pastinya sudah banyak pelajaran yang aku tinggalkan begitu saja.
Saat bel istirahat berbunyi tiba-tiba telepon genggamku pun ikut berdering. Kulihat layar handphoneku dan ternyata itu orang tua Darwin menelpon. Mereka mengabarkan bahwa Darwin telah sadar dan sekarang ia sudah bisa dijenguk. Di dalam hati aku merasa kecewa mengapa ia tidak sadar saat aku saja yang menemaninya, tapi aku juga bersyukur akhirnya ia sudah sadarkan diri. Aku berkata pada orang tuanya bahwa nanti pulang sekolah aku akan kesana untuk menjenguknya.
Setelah pulang sekolah aku mampir dulu ke supermarket untuk membelikannya buah-buahan setelah itu aku berangkat menuju rumah sakit dan tidak sabar untuk melihatnya. Sesampainya aku disana. Aku melihat senyum ramah dari keluarga Darwin menyambutku namun tidak dengan Darwin, ia melihatku dengan tatapan heran dan entah apa itu ia seperti orang yang tidak mengenaliku. Saat aku mencoba mendekat padanya ia semakin menajamkan tatapannya terhadapku. “apa kau sudah baikan?” tanyaku. “sudah. Maaf, kalau boleh tahu kau ini siapa ya?” tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan dengan ragu aku menjawab “aku sahabatmu, Gina. Kita teman satu kelas”. “maaf aku lupa” katanya dengan menambah aksen kebingungan pada mimik wajahnya. Aku semakin terjkejut dengan perkataannya. Aku mencoba bertanya pada ibunya dan kata ibunya ia mengalami gegar otak ringan dan hanya kehilangan sebagian ingatannya terutama ingatan yang menyenangkan ataupun menyedihkan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Aku sangat shock mendengar penjelasan dari ibunya. Dengan terpaksa aku mohon diri untuk pulang kepada ibunya.
Saat perjalanan pulang tak henti-hentinya aku memikirkan tentang hilangnya ingatan Darwin tentangku. Aku tak habis piker kenapa aku yang harus ia lupakan sedangkan aku berharap setelah kejadian ini hubungan kami akan kembali membaik.
Setelah 10 hari menjalani pemulihan kini Darwin sudah boleh masuk sekolah lagi. Namun semua ini berbeda 180 derajat dari yang kuharapkan. Ya kini ia seperti orang baru dan tak mengenalku sama sekali. Dulu dia yang sering menyapaku, kini saat melewatiku pun ia tak pernah lagi menoleh padaku. Separah itukah hilangnya ingatanmu tentangku? Tentang semua hari indah kita saat bersama? Pernah aku mencoba untuk menyapanya namun apa yang kuperoleh ia hanya menoleh dan tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Inikah akhir kisah cintaku? Akhir yang tak pernah melewati awalan. Ya inilah kisahku, kisah cinta yang hanya bisa kupendam dalam hatiku yang seharusnya sudah kubuang saat ia mencintai gadis itu.. inilah kisahku. Kisah cinta yang berakhir tanpa adanya permulaan dan kisah cinta yang hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya..
::SELESAI::