Thursday, January 24, 2013

My cerpen :):):)

Cinta yang terpendam
Perkenalkan namaku Gina. Aku adalah salah seorang murid kelas 10 di SMU Harapan Bangsa. Sama seperti yang lainnya aku hanyalah seorang siswi biasa yang bisa dibilang standar-standar saja. Sebenarnya aku berasal dari kota Solo, namun karena aku orang tuaku sudah lebih dulu meninggalkanku, kini aku tinggal bersama paman dan bibiku di Bandung. Dan juga aku ini pribadinya pemalu dan susah untuk mengungkapkan perasaanku sendiri. Sampai pada akhirnya terjadilah hal ini. Hal yang merupakan akibat dari sifat pemalu yang kumiliki ini.
Kisah ini berawal dari hari pertama aku masuk sekolah di SMU Harapan bangsa. Lebih tepatnya saat upacara penerimaan siswa baru telah diresmikan. Setelah upacara selesai maka kami -para siswa baru- akan dikumpulkan di aula sekolah untuk mendapat pengerahan mengenai pembagian kelas dan wali kelas dari masing-masing kelas.
Setelah di beri aba-aba untuk menuju ke aula kami pun berbondong-bondong untuk masuk ke aula. Aku berjalan bersama dua orang siswi baru yang baru kukenal saat upacara penerimaan murid baru tadi, yaitu Ferli dan Prita. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing sambil bersenda gurau. Saking asyiknya obrolan kami sampai-sampai aku tidak melihat ada seorang siswa laki-laki sedang berlari dari arah pintu aula di saat kami akan masuk ke aula. Tabrakan pun tak terelakkan lagi. Kami berdua jatuh ke arah belakang. Karena merasa bersalah siswa laki-laki tersebut membantuku berdiri dan meminta maaf, karena ia berlari dan telah membuat kami berdua terjatuh. Dia menggenggam tanganku membantuku berdiri. Tapi kurasakan pergelangan kakiku sakit sekal sehingga sulit untuk dibuat berdiri. Akhirnya ia meminta ijin pada salah seorang guru untuk membawaku ke UKS. Ia memapahku sepanjang jalan menuju UKS.
Baru pertama kali ini aku menemui lelaki yang baik hati dan mau meminta maaf sampai bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak murni dia yang bersalah. Ia memapahku dengan hati-hati. Saat ia memapahku, kupandangi lekuk wajahnya yang lumayan manis. Terlihat dari wajahnya ia adalah orang yang berhati lembut. Sesampainya di UKS ia membantuku untuk duduk di kursi UKS. Dan setelah menjelaskan apa yang terjadi kepada dokter jaga, ia pun menghampiriku dan berkata, “aku sudah meminta dokter untuk mengobati kakimu. Perkenalkan namaku Darwin” katanya sambil menyunggingkan senyum manisnya. Melihat senyumannya itu hatiku serasa berhenti berdetak. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Rasanya seperti rasa sesak yang terasa penuh di dada dan sulit untuk diungkapkan. Melihatku melamun, ia pun berkata, “haloooo, kamu melamun ya? Namaku Darwin. Namamu siapa?”. “oh eee, enggak kok aku enggak ngelamun. Namaku Gina. Salam kenal”. “Nama yang bagus salam kenal juga. Oh iya, karena aku sudah selesai disini, aku kembali ke aula dulu ya?”. “oo iya iya. Terima kasih sudah menolongku.”. “iya sama-sama. Ya sudah, cepat sembuh ya…” katanya sambil tersenyum ke arahku. Entah mengapa aku tak ingin ia menghilang dari pandanganku. Kuikuti terus bayangan punggungnya hingga akhirnya bayangan tersebut benar-benar menghilang dari pandanganku. Entah mengapa setelah ia pergi rasanya suasana di UKS begitu sepi. Padahal baru kenal beberapa menit yang lalu tapi entah mengapa aku merasa ingin sekali bertemu lagi dan menjadi dekat dengannya.
Keesokan harinya aku datang pagi-pagi sekali berharap akan bertemu lagi dengannya. Dengan suasana hati yang bercampur aduk aku melihat ke papan pengumuman untuk mengetahui pembagian kelas untuk anak kelas 10. Ketika melihat daftar nama anak kelas 10 D aku terpaku pada satu nama yaitu “Darwin Pranata”, aku berharap itu adalah Darwin yang ku kenal karena 10 D merupakan kelasku juga nantinya. Namun aku sedih juga karena kedua temanku yaitu Ferli dan Prita berada di kelas yang berbeda denganku yaitu di kelas 10 A.
Sesampainya di kelas betapa terkejutnya aku melihat orang yang belum lama kukenal namun rasanya dia sudah menjadi orang dekat yang selalu ada di setiap hari-hari dan ingatanku. Aku terpaku di depan pintu kelas sampai ada sebuah suara yang memanggil-manggil namaku. “Gina.. kamu Gian kan?”. Aku tersadar bahwa suara tersebut adalah suara dari sosok manusia yang berada di dalam kelas yang kini telah berada di hadapanku dan membuat hatiku serasa mau melompot keluar dari tubuhku. “eee..e iya aku Gina. Kamu Darwin ya?” jawabku tergagap. “iya,, wah kebetulan sekali ya kita bertemu lagi. Bagaimana kakimu? Apa sudah sembuh?” tanyanya. “emm sudah lebih baik kok” kataku. “oh iya kebetulan tempat duduk di sebelahku masih kosong. Apa kau mau duduk di sebelahku?” lanjutnya. Mendengar perkataannya itu jantungku serasa berhenti berdetak. Mungkin saat ini mukaku sudah merah padam seperti kepiting rebus. Melihat aku yang terdiam, iapun bertany lagi “hello… mau duduk di sebelahku?”. “emh ya b-boleh saja” kataku. “mohon bantuannya ya. Semoga kita bisa menjadi teman baik” katanya sambil menjabat tanganku dan mengeluarkan senyum mautnya itu. Waaaa…semoga saja aku tak meleleh dibuatnya. “i-iya mohon bantuannya juga” jawabku sambil menyembunyikan wajahku yang terlanjur panas dibuatnya. Kurasa hari-hariku di SMA ini akan berlalu bahagia bersamanya.
Tak terasa sudah 1 bulan aku menjalani masa SMA ini. Dan itupun ku jalani bersama orang yang kusuka, ya Darwin. Semenjak hari itu hubunganku dan dia semakin baik dan kamipun selalu terlihat dekat walaupun ia hanya menganggapku sebagi sahabatnya. Yah setidaknya aku masih memiliki status di hadapannya yaitu sebagai sahabatnya walaupun terkadang aku menginginkan lebih dari itu.
Sampai pada suatu hari aku melihatnya berjalan bersama siswi dari kelas 10 C bernama Angel. Yah sakit sih melihat mereka jalan berdua namun apa daya toh dia juga menganggapku hanya sebatas sahabatnya saja. Sejak saat itu dia sering sekali menceritakan tentang Angel kepadaku. Aku yang memendan rasa sakit di hatiku karena mendengar orang yang kusuka sedang menceritakan anak perempuan lain yang sekarang sedang ia pikirkan hanya bisa diam dan hanya mendengar tanpa berkomentar. Sampai pada suatu hari aku sudah bosan mendengar semua ceritanya tentang Angel aku memutuskan untuk angkat bicara “apa kau tida bosan setiap hari bercerita tentangnya kepadaku?” tanyaku. “tentu saja tidak karna kamu itu sahabatku dan menurutku hanya kamulah yang mau mendengar semua curahan hatiku ini” balasnya. “tahukah kamu kalau sebenarnya aku bosan mendengar semua ini setiap hari? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku saat kau bercerita panjang lebar tentang gadis itu?”. Ia terlihat bingung dan menatapku. “aku kira kau akan senang jika melihatku senang. Bukankah itu yang namanya sahabat?” jawabnya. Aku terdiam lalu pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun.
Sejak kejadian itu hubunganku dan Darwin tak seakur dulu lagi aku pun berusaha menghindarinya dengan cara pindah duduk disebelah Andin. Terkadang aku merasa bersalah padanya karna menjauhinya secara tiba-tiba dan tanpa sebab yang jelas namun jika semua ini diteruskan ini akan lebih membuatku sakit karena rasa sukaku padanya. Maaf atas keegoisanku ini Darwin, tapi ini semua aku lakukan agar kau tak terlalu bergantung padaku dan membuatku lebih sakit lagi karena rasa ini.
Seminggu berlalu sejak aku mulai menjauhkan diri dari Darwin. Entah karena apa aku merasa ini sudah keterlaluan dan aku harus meminta maaf padanya. Kubulatkan tekadku untuk meminta maaf padanya pada saat pulang sekolah nanti. Namun pada saat bel pulang berbunyi aku melihat Darwin terburu-buru keluar kelas, aku yang melihat hal tersebut mencoba mengikutinya dan coba tebak apa yang aku temukan. Ya dia akan pulang bersama Angel hari ini. Menurut berita yang beredar mereka sudah jadian sekitar 3 hari yang lalu. Tahukah kalian bagaimana rasanya hatiku saat ini melihat orang yang kusukai berjalan berdampingan dan bergandengan tangan di depan mataku sendiri? Tanap terasa air mataku mengalir deras keluar dari pelupuk mataku. Kuurungkan niatku untuk meminta maaf padanya hari ini.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan hancur berkeping-keping. Aku sangat tak berkonsentrasi saat ini, aku atak menghiraukan apapun di sekitarku karena suasana hatiku yang sedang kacau. Di rumah akupun hanya mengurung diriku di kamar dan merenungkan cara bagaimana aku bisa meminta maaf padanya tanpa harus bertemu dan berbicara empat mata dengannya.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan keadaan kacau karena semalam aku tak bisa tidur akibat memikirkan cara untuk meminta maaf pada Darwin. Sesampainya di sekolah aku mendapat kabar yang tak mengenakkan. Katanya Darwin dan Angel mengalami kecelakaan kemarin sore. Nyawa Angel tak terselamatkan. Berbeda dengan Darwin yang masih mengalami masa kritis di rumah sakit. Aku sangat terkejut mendengarnya, dan itu sukses membuatku tidak konsen dengan semua pelajaran yang diajarkan oleh semua guru hari ini. Dan akhirnya saat bel pulang dibunyikan akupun langsung menerobos keluar gerbang dan berlari menuju rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Sesampainya di sana aku bertanya kepada resepsionist dimana tempat Darwin dirawat. Setelah suster menunjukkan ruangannya betapa terkejutnya aku melihat Darwin yang biasanya ceria kini ia hanya diam seribu bahasa dengan berbagai selang ang tersambung ke seluruh tubuhnya dan peralatan rumah sakit itu. Kucoba untuk duduk di sebelah tempat tidurnya. Ia sama sekali tak bergerak, hanya suara alat pendeteksi detak jantung yang mengisi kesunyian tempat ini. Tak terasa air mataku mulai menetes dari pelupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya disini. “aku minta maaf, maaf aku tak sempat mengatakkanya kemarin karna aku terlalu sakit melihatmu bersama Angel. Sekali lagi maaf” kataku di tengah-tengah tangisanku. Aku berharap ia akan sadar dan membalas perkataanku. Namun itu hanya sia-sia saja karna ia tetap diam terpaku di atas tempat tidurnya dan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar kembali.
Sudah empat hari ia terbaring tak berbicara di tempat tidur itu. Kapan ia akan sadar Ya Tuhan. Berikanlah ia kekuatan untuk kembali sadar dan menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Tak lama kemudian orang tua Darwin datang dan menyuruhku untuk pulang dan beristirahat karena memang selama 4 hari ini aku yang menjaga Darwin karena orang tuanya pergi menjemput neneknya yang ingin melihat keadaan cucunya ini.
Sesampainya di rumah aku langsung tertidur karena capek dan memang aku tidur hanya beberapa jam selama 4 hari ini karena aku berharap ia akan sadar dan orang yang pertama kali ia lihat adalah aku. Keesokan paginya aku mulai masuk sekolah karena jujur sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan pastinya sudah banyak pelajaran yang aku tinggalkan begitu saja.
Saat bel istirahat berbunyi tiba-tiba telepon genggamku pun ikut berdering. Kulihat layar handphoneku dan ternyata itu orang tua Darwin menelpon. Mereka mengabarkan bahwa Darwin telah sadar dan sekarang ia sudah bisa dijenguk. Di dalam hati aku merasa kecewa mengapa ia tidak sadar saat aku saja yang menemaninya, tapi aku juga bersyukur akhirnya ia sudah sadarkan diri. Aku berkata pada orang tuanya bahwa nanti pulang sekolah aku akan kesana untuk menjenguknya.
Setelah pulang sekolah aku mampir dulu ke supermarket untuk membelikannya buah-buahan setelah itu aku berangkat menuju rumah sakit dan tidak sabar untuk melihatnya. Sesampainya aku disana. Aku melihat senyum ramah dari keluarga Darwin menyambutku namun tidak dengan Darwin, ia melihatku dengan tatapan heran dan entah apa itu ia seperti orang yang tidak mengenaliku. Saat aku mencoba mendekat padanya ia semakin menajamkan tatapannya terhadapku. “apa kau sudah baikan?” tanyaku. “sudah. Maaf, kalau boleh tahu kau ini siapa ya?” tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan dengan ragu aku menjawab “aku sahabatmu, Gina. Kita teman satu kelas”. “maaf aku lupa” katanya dengan menambah aksen kebingungan pada mimik wajahnya. Aku semakin terjkejut dengan perkataannya. Aku mencoba bertanya pada ibunya dan kata ibunya ia mengalami gegar otak ringan dan hanya kehilangan sebagian ingatannya terutama ingatan yang menyenangkan ataupun menyedihkan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Aku sangat shock mendengar penjelasan dari ibunya. Dengan terpaksa aku mohon diri untuk pulang kepada ibunya.
Saat perjalanan pulang tak henti-hentinya aku memikirkan tentang hilangnya ingatan Darwin tentangku. Aku tak habis piker kenapa aku yang harus ia lupakan sedangkan aku berharap setelah kejadian ini hubungan kami akan kembali membaik.
Setelah 10 hari menjalani pemulihan kini Darwin sudah boleh masuk sekolah lagi. Namun semua ini berbeda 180 derajat dari yang kuharapkan. Ya kini ia seperti orang baru dan tak mengenalku sama sekali. Dulu dia yang sering menyapaku, kini saat melewatiku pun ia tak pernah lagi menoleh padaku. Separah itukah hilangnya ingatanmu tentangku? Tentang semua hari indah kita saat bersama? Pernah aku mencoba untuk menyapanya namun apa yang kuperoleh ia hanya menoleh dan tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Inikah akhir kisah cintaku? Akhir yang tak pernah melewati awalan. Ya inilah kisahku, kisah cinta yang hanya bisa kupendam dalam hatiku yang seharusnya sudah kubuang saat ia mencintai gadis itu.. inilah kisahku. Kisah cinta yang berakhir tanpa adanya permulaan dan kisah cinta yang hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya..
::SELESAI::




No comments:

Post a Comment